4 Makanan Khas Minahasa Super Pedas

4 Makanan Khas Minahasa Super Pedas

Bigtupperbrewing – Penggunaan cabai (rica) pada cita rasa makanan khas Minahasa ternyata merupakan imbas dari penggunaan cabai sejak zaman kolonial. Awal mula masuknya tanaman cabai di Sulawesi Utara yaitu pada tahun 1570. Tanaman cabai masuk melalui proses perebutan kekuasaan antara Sultan Ternate, Portugis dan Spanyol. Percobaan kuliner yang dilakukan para biarawan Spanyol sebelumnya menunjukkan jika kepedasan cabai bisa menggantikan lada hitam, yang saat sangat mahal dan digunakan sebagai alat tukar resmi di berbagai negara. Pada tahun 1644 dilakukan pembudidayaan cabai di daerah pegunungan Minahasa hingga akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Minahasa.

Lalu, apa saja makanan khas Minahasa yang pedas karena penggunaan cabai yang dominan? Simak penjelasannya di bawah ini.

4 Makanan Khas Minahasa Super Pedas

Menurut Gabriele Weichart alasan utama penggunaan cabai dalam jumlah yang sangat banyak bagi para penggemar berat daging (orang Minahasa) yaitu untuk menghilangkan rasa asli daging hewan buruan misalnya: kelelawar, babi hutan, ular, anjing, tikus hutan yang beraroma sangat kuat sehingga diperlukan cabai yang dominan agar rasa amis pada daging bisa termanipulasi dengan rasa cabai yang begitu menyengat.

Beberapa makanan pedas khas Minahasa tersebut adalah sebagai berikut.

1. Woku

Woku bisa dibilang menu favorit, bahan ikon masakan Minahasa. Bernadeth Ratulangi pakar masakan Minahasa menyatakan jika Woku ibarat rendang di Sumatera Barat. Bahan dasar yang sering digunakan pada masakan ini adalah ikan. Di Minahasa ikan yang dipakai untuk masakan doku daun biasanya adalah ikan goropa (kerapu) atau ikan bobara (kuwe). Dalam proses memasak woku daging dan sayur jangan diberi tomat, agar rasanya tidak tertutup mpo88. Berikut rempah-rempah yang digunakan untuk mengolah woku, cabai rawit, jahe, bawang merah, serai, daun bawang, daun lemon (daun jeruk), daun kunyit, kemangi, tomat, lemon cui, dan garam.

2. Tinoransak

Salah satu makanan khas Minahasa dari binatang buruan ialah tinoransak, yaitu daging babi yang dimasak dengan dicampur darah agar warnanya cerah. Bumbu yang digunakan untuk masakan tinoransak: cabai, garoka (jahe), daun bawang, batang bawang (daun bawang), balakama (kemangi), serai, daun lemon (daun jeruk), daun kunyit, dan garam.

Biasanya tinoransak di santap dengan nasi bungkus semacam lontong khas Minahasa. Dalam proses pembuatannya beras di bungkus dengan daun laikit, daun tanaman hias. Tradisi nasi bungkus awalnya untuk menjatah nasi di keluarga besar. Dalam perkembangannya, daun laikit digunakan dalam acara adat sebagai pengganti piring untuk tanda kebersamaan.

3. Kawok

Selain tinoransak. Makanan berbahan dasar hewan hasil perburuan adalah kawok (tikus hutan), menjadi salah satu lauk favorite Minahasa. Dagingnya bahkan dianggap lebih manis daripada daging ayam. Satwa liar seperti tikus, kelelawar, dan ular awalnya diburu untuk membasmi hama jagung dan padi.

Setidaknya ada 12 jenis tikus hutan yang mereka ketahui, dan yang paling disukai adalah salua-tikus pohon yang memiliki ekor dan perut putih-karena dagingnya banyak dan enak. Kawok harus dimasak dengan cabai yang banyak untuk menghilangkan aroma tanah dan hutan.

Proses pembuatan Kawok oleh Minahasa biasanya menggunakan lutut (bambu), bambu identik digunakan saat acara khusus, seperti perkawinan dan kematian. Demikian penjelasan mengenai beberapa makanan khas Minahasa yang bisa kamu ketahui. Semoga informasi pada artikel ini dapat menambah wawasan kamu mengenai sejarah kuliner khususnya makanan pedas di wilayah Minahasa Sulawesi Utara.


Comments are closed.